Guru Besar dan Alumni UI Deklarasikan ‘ALIANSI UI TOLERAN’

Laporan : Lemens Kodongan

Jakarta, eksposenews.com- Bertempat di museum Kebangkitan Nasional Stovia Jakarta, dilangsungkan Deklarasi Aliansi Ul Toleran oleh sejumlah alumni dan Guru Besar Universitas Indonesia pada Kamis (30/8).

Aliansi UI Toleran ( Aliansi Untuk Indonesia yang Toleran) dibacakan oleh ketua presidium Donny Gahral Adian mengatakan,” Masyarakat majemuk yang sehat dan produktif selalu di topang oleh ikatan dan semangat toleransi yang tinggi.

Kami alumni Ul melihat bahwa semangat toleransi akhir-akhir ini, terutama di lingkungan Kampus UI mulai tergerus oleh berbagai sebab.

Melihat kenyataan ini, maka kami mendeklarasikan berdirinya Aliansi UI Toleran yang bermaksud mendorong terjaganya semangat toleransi di Ul yang majemuk.

” Deklarasi ini dihadiri sejumlah Guru Besar Ul seperti Prof. Dr. Saparinah Sadli, Prof. Riris Sarumpaet, M. Sc.Ph.D., Prof. Dr. Albertine Minderop, M.A., Prof. Dr. J.B. Sumarlin, Prof. Dr. Rahayu, S.H., Prof. Dr. Sulistyowati Irianto dan alumni Ul ternama seperti Ratih Ibrahim, Saras Dewi, Kadri, Once dan lain-lain.

Gagasan Aliansi ini berawal dari keprihatinan sekelompok alumni Ul terhadap aksi narapidana terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, yang menyandera beberapa polisi bulan Mei lalu. Kemudian menyusul aksi terorisme terhadap sejumlah gereja dan markas polisi di Surabaya dan di Riau.

Rangkaian aksi ini menelan korban polisi, warga sipil dan pelaku bom bunuh diri yang melibatkan seluruh anggota
keluarga, termasuk anak-anak.

Beberapa peristiwa ini menggerakkan para alumni Ul ini untuk membuat petisi agar lingkungan kampus harus bersih dari penyebaran dan praktik radikalisme serta intoleransi.
Lalu secara spontan dan bergulir cepat, terkumpul 3.013 orang yang memiliki suara yang sama dalam menentang radikalisme dan intoleransi,” kata Sekjen Aliansi Ul Toleran Pamela Cardinale.

Tidak lama kemudian, Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M. Met mengeluarkan 7 butir pernyataan untuk merespons rangkaian aksi terorisme tersebut, diantaranya “Menentang keras segala bentuk radikalisme dan terorisme, termasuk ujaran kebencian baik di dalam maupun di luar
kampus, dan akan menindak tegas setiap warga Ul yang melakukan tindakan provokasi yang mengarah pada radikalisme dan memecah belah bangsa.”

Sebagai bentuk dukungan atas pernyataan Rektor Muhammad Anis, perwakilan alumni Ul lalu
menyerahkan sejumlah rekomendasi kepada Wakil Rektor Ul Bambang Wibawarta pada Kamis, 24 Mei 2018.

Rekomendasi tersebut antara lain, mendukung agar Rektorat dan jajarannya “menegakkan dan mengamalkan 4 Pilar Kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

” Para alumni juga meminta Rektorat “melarang segala bentuk kegiatan yang berpotensi mewujudkan intoleransi di dalam lingkungan sivitas akademi Ul.” Rektorat juga diminta “mengawasi kegiatan mahasiswa untuk mencegah indoktrinasi faham yang bertentangan dengan Pilar-Pilar Kebangsaan dan kehidupan masyarakat yang pluralis.”

Akhirnya alumni Ul meminta Rektorat “melakukan tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang terindikasi mencemarkan nama baik UI dengan pernyata an-pernyataan intoleran dan/atau aktivitas-aktivitas yang memprovokasi mahasiswa dan masyarakat untuk berlaku toleran. Pencemaran nama baik keikutsertaan dalam organisasi terlarang seperti Hizbut Tahrir Indonesia.

Kepala BNPT Suhardi Alius dalam wawancaranya dengan pengurus Aliansi sebelum memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru universitas Indonesia Jumat 24 Agustus 2018, menyampaikan ciri-ciri radikalisme di kampus yaitu toleransi,anti NKRI, anti Pancasila dan penyebaran faham Takfiri.

Iklan